Kisah Kerang Mutiara Di Pantai Sejarah

Kisah Kerang Mutiara Di Pantai Sejarah

Di suatu pantai yang sangat indah, angin berhembus sepoi-sepoi, debur menghempas bebatuan, kicau burung bernyanyi menambah suasana pantai semakin indah tatkala air laut surut. Di pinggiran pantai hiduplah seekor Anak Kerang dan seekor Ibu Kerang.

Suatu ketika seekor Anak Kerang datang kepada Ibunya sambil menangis. Agaknya ia menahan sakit yang berkepanjangan, sang Ibu tampak bingung. "Mengapa engkau menangis, Nak? Ada apa dengan tubuhmu?" Sang Ibu tampak ketakutan.

Si Kerang kecil kembali menangis dengan suara yang semakin kuat. "Ibu..... Tubuhku dimasuki sebutir pasir, rasanya saakiiit sekaliii," ujar sang Anak Kerang. Namun sang Ibu Kerang tidak dapat mengeluarkan pasir tersebut dari tubuh anaknya.

"Tolonglah Bu, tolong bukalah cangkangku, aku tak mampu membukanya rasanya sakit sekali," tangis sang Anak Kerang. Sayang sekali, rupanya sang Ibu tidak dapat memenuhi permintaan sang Anak. Berhari-hari lamanya si Kerang kecil menahan sakit, setiap saat dan setiap hari pula ia berdoa agar bisa terlepas dari derita ini berharap sekali agar pasir itu dapat dikeluarkan dan terangkat dari dalam tubuhnya.

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun si kerang kecil itu menangis, namun cangkangnya itu tidak pernah terbuka. Pasir yang bersemayam semakin mengeras dan membesar menjadi sebuah batu yang mengkristal.

Suatu hari, tiba-tiba datanglah seorang penyelam. Ia lalu mengambil kerang itu dari gumpalan karang dan membawanya ke permukaan. "Hai lihat, aku telah menemukan kerang mutiara di sini," teriaknya kepada temannya yang berada di sampan.

Kedua orang itu merapat dan salah seorang di antaranya mengambil pisau kemudian membuka sebelah cangkangnya. Tampak cahaya berkilau dari dalam rupanya sebutir mutiara bersemayam di sana. Begitu indah membuat penyelam itu tersenyum kegirangan.

"Terima kasih, ya Allah atas berkah ini," kata sang Penyelam.

"Ah... lega rasanya, akhirnya aku terbebas dari rasa sakit yang berkepanjangan," senyum si Kerang kecil. Maka masa penantian kerang kecil pun berakhir. Pasir yang mulanya begitu menyakitkan kini berubah menjadi benda yang sangat berharga, yaitu mutiara yang begitu indah. Lalu kedua kerang pun berpelukan sampai ke dasar laut.

Dari peristiwa tersebut kita dapat memperoleh suatu pelajaran bahwa untuk mencapai keagungan dan mencapai orang besar itu memerlukan waktu dan kesabaran. Untuk menjadi hiasan para raja dan bangsawan, sang Kerang perlu menangis dan berdoa siang dan malam.

Dengan demikian, manakah yang kelak menjadi pilihan hidup kita, apakah menjadi Kerang mutiara yang mahal harganya atau cukup menjadi Ikan Sotong yang dijual murah. Memang tak ada yang mengetahui, kapan pasir yang menjadi cobaan itu akan menjadi Mutiara kelak. Namun hanyalah mereka yang gigih dan bersabar yang kelak akan memetik jawabannya, seperti kisah Kerang Mutiara di pantai sejarah.

Komentar

Postingan Populer